Warmest regards

March 22, 2025

Pekan SNBP yang Membawa Nostalgia

Perpus UI dan Danau Kenanga

Bagi yang belum tahu, mungkin algoritma media sosialnya sudah tidak membawa konten ini, minggu lalu menjadi minggu yang mendebarkan untuk anak-anak SMA. Minggu lalu adalah masa pengumuman SNBP--dulu namanya 'undangan' atau 'SNMPTN'--yaitu ujian masuk perguruan tinggi menggunakan nilai rapor, tanpa tes. Bagi anak-anak yang lolos di SNBP, mereka sudah dijamin akan mendapatkan kursi di perguruan tinggi sesuai dengan pilihan mereka. Sementara, untuk yang belum lolos harus berjuang kembali melalui ujian tulis bersama, atau ujian mandiri tiap universitas.

Aku pun terpapar dengan konten-konten anak SMA yang merekam proses mereka saat membuka hasil SNBP. Ada yang membuka hasilnya sendirian, ada yang bersamaan dengan beberapa teman, ada pula yang didampingi dengan kedua orang tua dan saudara (mahal banget inih!). Tidak hanya konten dari mereka yang lolos, yang gagal pun juga banyak diunggah di Tiktok. Yang lolos tentu dipenuhi oleh haru dan kata-kata syukur, yang gagal dipenuhi oleh ketabahan dan penerimaan.

Tepatnya kemarin sore saat aku di KRL dalam perjalanan pulang dari kantor. Seperti biasa, aku berdiri sambil bolak-balik membuka aplikasi Instagram, Twitter, dan Tiktok. Sampailah aku di konten-konten SNBP di Tiktok. Aku tidak bisa berhenti scroll sampai akhirnya aku tidak kuat menahan air mata haru. Untungnya aku masih membawa kebiasaan covid-19 sehingga selalu mengenakan masker, hehe.

Konten-konten pengumuman SNBP ini berhasil membawa aku kembali ke masa yang sama: pengumuman SNMPTN-ku tahun 2013 silam. Pengumuman SNMPTN di masa yang cukup terpuruk itu mungkin salah satu turning point terbesar di hidupku. Mungkin itu juga jadi faktor terbesar yang membentuk Aca jadi orang seperti sekarang ini. Aku mau cerita, boleh, ya?

Menjalani Kelas 12 dengan Menyedihkan

Tahun 2013 adalah masa yang sangat berat bagi keluargaku. Mamah yang saat itu menjadi tulang punggung tunggal, tertimpa sebuah masalah yang menyebabkan mamah tidak bisa bekerja, bahkan tidak bisa mendampingi aku dan saudara-saudaraku di rumah selama sekitar 1 tahun. Aku hanya tinggal berlima dengan kakak, 2 adik, dan 1 kakak sepupu. Kakakku yang masih kuliah terpaksa ambil cuti 1 tahun untuk fokus bekerja. Adik-adikku harus dipaksa mandiri lebih cepat karena tidak ada orang tua. Aku? Aku menjalani kelas 12, masa-masa krusial seorang anak sekolah, dengan sumber daya yang ada.

Beruntungnya aku, meskipun saat itu aku tidak bisa ikut bimbingan belajar sama sekali (siapa yang sanggup bayar?), sekolahku punya program kelas tambahan untuk semua murid di mana kami diberikan berbagai latihan soal untuk persiapan ujian nasional. Selain itu, teman-temanku di kelas IPS adalah teman terbaik yang bisa didambakan seseorang. Mereka selalu mau belajar bersama, saling bantu ketika kesulitan, dan tidak mau meninggalkan satu sama lain.

Sebagian Social68

Singkat cerita, aku dan seluruh murid kelas 12 di SMA diberikan kesempatan untuk mengikuti SNMPTN, yaitu ujian masuk perguruan tinggi menggunakan nilai rapor kelas 10-12. Sebelumnya aku selalu ingin kuliah di Fak. Ilmu Komunikasi UNPAD Bandung, tetapi mamah yang saat itu berada jauh dari aku meminta agar aku daftar ke UI saja. Aku pun menuruti keinginan mamah.


Pengumuman SNMPTN Sore Itu

Pengumuman dijadwalkan pada pukul 16:00 WIB. Deg-degan? Ada banget. Seharian timeline twitter dipenuhi oleh nervousnya teman-temanku menanti hasil akhir. Pukul 4 sore pun tiba, tapi saat itu aku belum bisa langsung mengaksesnya karena di rumah tidak ada internet. Aku harus menunggu kakakku pulang kerja sekitar pukul 8 malam untuk minta tethering. Sedih dah pokoknya wkwk.

Karena aku tidak bisa menahan rasa penasaran, akhirnya aku membeli voucher wifi kampung seharga Rp5.000 untuk 2 jam internetan. Setelah ku beli, aku buka laman pengumuman SNMPTN, lalu... Alhamdulillah, aku diterima. Saat itu aku sendirian di rumah, tidak punya siapa-siapa untukku luapkan kebahagiaan itu. Tidak pernah terbayang olehku bahwa seorang anak SMA yang bahkan kesulitan membayar uang sekolah, tanpa didampingi orang tua, akhirnya akan berangkat ke Jakarta untuk kuliah.

Ekspresiku di Twitter saat itu

Selesai euforia yang sesaat saja, aku menelusuri laman penerimaan mahasiswa baru Universitas Indonesia. Di situ aku mencari 2 informasi utama: tanggal pendaftaran ulang dan.... BEASISWA. Tentu saja, tanpa beasiswa aku tidak akan mungkin bisa melanjutkan kuliah. Di situlah muncul informasi tentang beasiswa Bidik Misi. Bidik Misi adalah beasiswa dari Kementerian Pendidikan untuk mereka yang kesulitan ekonomi. Ibarat bantuan, ini BLT lah untuk kuliah.

Tweet kakakku sesaat setelah pengumuman haha sedihhh

Lolosnya aku di SNMPTN ternyata bukan sebuah akhir dari perjuangan. Justru sebaliknya, itu adalah titik start dari perjuangan gila-gilaan yang kalau aku pikir-pikir, ternyata tidak ada hentinya sampai sekarang, hahaha. Mulanya, aku harus mengumpulkan semua berkas untuk pendaftaran Bidik Misi mulai dari surat keterangan tidak mampu, fotokopi nilai rapor, dan data pribadi lainnya, sendirian. Selesai persiapan semua berkas, aku menyiapkan diri untuk berangkat ke Jakarta. Tentunya berangkat sendirian. Bisa bayangkan, anak kelas 12 SMA yang sebelumnya tidak pernah keluar kota sendiri, harus berangkat naik kereta ekonomi sendirian. Tapi alhamdulillah ada kerabat yang bisa menjemputku di Stasiun Jatinegara pukul 3 pagi dan mengantarku ke rumah teman mamah di daerah Cinere. Dan tentunya, ada Allah yang melindungiku.

Suasana daftar ulang di Balairung UI pasca pengumuman SNMPTN 2013


Masa-masa berat, seberat apapun itu, ternyata suatu hari akan terlewat juga. Tersisa hikmah dan jejaknya yang sedikit/banyak membentuk diri kita. Aku tidak pernah menyesali perjuangan yang aku lakukan. Aku bersyukur aku pernah menjalaninya, bersama mamah dan saudara-saudara, bersama teman-teman seperjuangan yang selalu ku rindukan.

Oh iya lupa, gara-gara aku lolos SNMPTN ini aku tidak bisa hadir wisuda SMA karena tanggalnya bertepatan dengan kegiatan mahasiswa baru di UI. Aku tidak diberi izin untuk tidak mengikuti kegiatan mahasiswa baru di UI, jadi yes, aku tidak punya foto wisuda SMA sama sekali xixi. Mau baca tulisanku pas pertama kali ke Depok ngga? Sumpah ini tulisan alay anak lulus SMA dari Jogja yang pertama kali ke Jakarta hahaha.

No comments:

Post a Comment